Saya memiliki masalah dengan kepala departemen saya, seringkali terjadi konflik internal departemen yang berakibat kontraproduktif terhadap kinerja departemen, dan sebenarnya saya bingung apa yang salah dengan pola kami memimpin departemen ini.
Salah satu hal yang unik dari organisasi dakwah adalah adanya seorang koordinator akhwat yang mendampingi di sebuah departemen / divisi / bidang dan sebagainya. Terkait peran khusus koordinator akhwat saya sampaikan pada bagian khusus, pada bagian ini saya ingin lebih menekankan pada pola hubungan antara kepala departemen dengan koordinator akhwat. Isi dari tulisan ini bisa disesuaikan tergantung kondisi, sebutlah ketua lembaga dakwah dengan ketua kemuslimahan, atau ketua panitia dengan koordinator akhwatnya.
Pertama Anda baik sebagai kepala departemen ( selanjutnya disingkat kadept ) atau koordinator akhwat ( selanjutnya disingkat korwat ) perlu memahami bahwa Anda adalah seorang pemimpin bagi staff Anda. Bisa dikatakan pula bahwa Anda dengan partner Anda adalah duo pemimpin, yang akan mengarahkan sebuah tim ke arah yang telah ditentukan. Untuk itu semua, maka diperlukan adanya komunikasi dan koordinasi yang jelas agar segala sesuatu dalam departemen berjalan dengan baik.
Pernahkan Anda mengalami sebuah perasaan seperti ini ;
“kemana yah kepala departemen ku ? kok gak ngerti sih kondisi departemen lagi mendesak ?”
“duh, ini korwat kok ganggu aku mulu sih ! gak bisa apa ngerjain sendiri !”
“apa aku salah yah, sehingga ia jadi seperti tidak memperdulikan pendapatku”
“duh, ini ikhwan kok gak percayaan banget sama akhwat, masa semua kerjaan di kerjain ikhwan!”
Continue reading →