kalau memang kamu memilih aku.
maka mantapkan lah hatimu
aku sudah memilih menambatkan hati ini
pada hatimu
kutunggu dirimu dengan berbagai keindahan di dalamnya
jika memang tanggal itu yang kita tuju
kita siapkan pernikahan terindah di dalamnya
peganglah ucapku
karena ia tajam dan kuat
untukku ucapku adalah janjiku
dan peganglah ucapku
sebagai janji setia dariku
ku kan jaga dengan bingkai emas
semua yang kau berikan
dan biarkan hatiku membungkus kesetiaan ini
dan biarkan rasa ku menghias perjalanan panjang kita
aku cinta padamu
sebagaimana sederhananya cinta
yang tak perlu banyak ucap
tetapi indah untuk dimiliki
kini ku pergi tanpa bertemu denganmu
namun nanti
kuharap kamu mengecup keningku
saatku berangkat pergi
dan kan kuberikan rasaku pada keningmu
tuk sebagai pesan
agar kamu menjaga dirimu
jangan pernah berpikir tuk berpaling dariku
dan tuk selalu pertahankan cintaku
padahal cuma mau ketemu SBY. tapi kok persiapan nya ribet amat ya… harus di foto khusus untuk pendataan keamanan. gak boleh bawa apa-apa. di cek sana-sini. Ya Allah pak SBY, kan daku rakyat mu juga ( walau dulu gak milih situ jg sih ). hmmm.. yuph i’m gonna meet my president, not in Jakarta or other cities in Indonesia, i’ll gonna meet him at hua hin, thailand. a little bit funny isn’t ? tapi gpplah. drpd gak ketemu sama sekali.. siapa tau dapet bekas bekas dan jadi punya bakat tuk jadi presiden. hoho
Berbicara tentang jati diri tidak bisa dilepaskan dengan kebudayaan yang ada pada suatu bangsa. Suatu bangsa bahkan memiliki satu jati diri yang mengakar dengan kuat dan tampak kental dimata luar karena kebudayaan yang mendarah daging di setiap elemen dalam bangsa itu. Bisa kita sebut, bangsa romawi, bangsa arab dan bangsa cina. Meskipun mereka telah terpecah dan berpencar, tetapi nilai dasar dari kebudayaan tersebut sangat mencerminkan betapa kokohnya bangsa tersebut.
Indonesia adalah negara 1001 budaya, dimana kita memiliki variasi perbedaan budaya yang di ikat dalam kesatuan visi besar nusantara. Setiap propinsi di republik ini memiliki tarian, bahasa, seni dan karakter masing-masing. Kesemuanya memiliki keunggulan yang bisa menjadikan Indonesia memiliki karakter kuat sebagai suatu bangsa yang besar. Manfaat kontemporer dari budaya yang kita miliki juga bermanfaat untuk pembangunan negara kita seperti untuk pendidikan dan pariwisata.
Menjadi suatu tanggung jawab bersama bagi kita para pemuda yang di masa yang akan datang akan menjadi pembaharu dalam pembangunan bangsa ini untuk mampu menjaga dengan baik agar kebudayaan ini terusa terjaga, meminimalkan intervensi dan penjajahan budaya oleh bangsa lain. Kalau boleh disebut bahwa budaya kita adalah national heritage yang wajib kita jaga sebaik-baiknya.
Bisa kita bersama lihat bagaimana perusakan budaya yang terjadi sejak zaman Belanda menjajah negara ini. Indonesia dikenal dengan bangsa santun, berbagi, dan penuh gotong royong. Akan tetapi, di masa Belanda mereka menjadikan orang terpilih dari bangsa Indonesia sebagai mandor untuk bangsanya sendiri. Hal ini bisa kita lihat bekasnya hingga sekarang, yakni masyarakat Indonesia dijajah sendiri oleh bangsanya. Mereka seakan menjadi kuli untuk tanah yang telah melahirkan mereka.
Perusakan lain dari budaya seperti, arus globalisasi yang gagal kita adaptasi dengan baik, budaya silaturahmi yang menjadi kebiasaan baik dari bangsa ini seakan terkikis oleh teknologi telekomunikasi yang justru membuat kita jauh dan penuh prasangka. Perusakan moral pun terjadi dikalangan muda, seperti arus masuk pornografi, budaya konsumtif dan materialistis yang seharusnya tidak menjadi gaya hidup masyarakat Indonesia.
Kesenian Indonesia pun dengan mudah “diklaim” oleh Negara lain, hal ini terjadi karena bahkan bangsa kita pun tak pernah mengetahui tentang kekayaan Bangsanya sendiri, sehingga proses penjagaan tidak berjalan dengan ketat. Pelan namum pasti seakan budaya kita digerogoti oleh ketidakpedulian dan kurang wawasan dari bangsa kita sendiri.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang menjunjung tinggi nilai luhur, dan menjadi satu cara yang sangat tepat untuk mengembalikan dan terus menjaga jati diri bangsa ini dengan senantiasa membentengi kebudayaan yang dimiliki oleh bangsa ini.
Demi Tuhan, untuk Bangsa dan Almamater
pertama kali dalam hidup saya, bergabung bersama negara asean lain untuk diskusi bersama. sebuah pengalaman yang berharga tentunya bisa bareng-bareng dengan orang terbaik di negara negara asean. dan sebuah kehormatan pula. banyak hal yang bisa didapatkan dari konferensi ini, dimana bentuk FGD sebagai metode membuat kita sesama perwakilan negara lebih mampu terbuka dan bebas menyampaikan pendapat.
pada awalnya saya berpikir tentang bagaimana nanti ini konferensi akan di bawa. apakah saya akan kalah bersaing dalam hal pendapat dengan negara lain ( low profile mode : on ), ataukah bahasa inggris saya akan tampak belepotan ketimbang negara yang menjadikan english sebagai first language atau kah mereka akan melihat indonesia sebagai negara terbelakang. ( who knows ?? )
setiba di hua hin, thailand, berjuta tanda tanya bermunculan ? what will happen next ? ok, i take my deep breath and try to be calm. lalu pelan-pelan saya berkenalan dengan delegasi dari negara lain, david dari malasyia, titos dari filipina, derek ho dari s’pore, sothi dari kamboja, pak dari vietnam, kula dari myanmar, nan dari thai, tina dari laos dan chester dari brunei dan rekan-rekan lainnya di konferensi tersebut.
kesan pertama ? wow they’re so kind to me. they show me to use the internet in the lodge, and somehow i give my electric adapter to the singaporean, we just like a family the first time we met. maybe it should be the way how the asean community runs.
hari pertama konferensi, disini saya benar benar belajar bagaimana negara lain, ada beberapa negara such as cambodia thai, vietnam and myanmar so do laos have the same education level just like us. they have the same issues like teacher welfare, lack of facilities, education paradigm, less education development in remote areas, bla bla bla. and we also have high education standard countries like singapore and malaysia.
diskusi berjalan sangat unik, semua perwakilan selalu menyampaikan pendapat, saling membantah dan melengkapi, akan tetapi nuansa kekeluargaan sangat terjadi, toleransi, kompromi, tidak mengutamakan kepentingan negara asal dan peace aura was spread out. okay. i’ll enjoy this situation, at least now i can understand how does the asean leader think about, and how they look for the problem.
yuph, asean point of view. kita harus bisa berpikir bagaimana yang terbaik untuk negara asean, untuk kebersamaan kita, untuk kemajuan ke-10 negara ini. tidak bisa kita hanya berpikir egois tentang pembangunan di indonesia padahal negara lain juga memiliki masalah yang tak mudah pula.
dan pada akhirnya kita akan membuat joint statement tentang pendidikan. semoga apa yg dibahas bisa bermanfaat.
hopefully..
towards asean community 2015
Jakarta – Usai sudah rangkaian audisi yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk menyaring para pembantunya. Berikut ini adalah susunan Kabinet Indonesia Bersatu II baru tersebut.
MENTERI KOORDINATOR
1. Menko Politik Hukum dan Keamanan : Marsekal (Purn) Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian : Hatta Rajasa
3. Menko Kesra : R Agung Laksono
4. Sekretaris Negara : Sudi Silalahi
MENTERI DEPARTEMEN
1. Menteri Dalam Negeri : Gamawan Fauzi
2. Menteri Luar Negeri : Marty Natalegawa
3. Menteri Pertahanan : Purnomo Yusgiantoro
4. Menteri Hukum dan HAM : Patrialis Akbar
5. Menteri Keuangan : Sri Mulyani
6. Menteri ESDM: Darwin Saleh
7. Menteri Perindustrian : MS Hidayat
8. Menteri Perdagangan : Mari E. Pangestu
9. Menteri Pertanian : Suswono
10. Menteri Kehutanan : Zulkifli Hasan
11. Menteri Perhubungan : Freddy Numberi
12. Menteri Kelautan dan Perikanan : Fadel Muhammad
13. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : Muhaimin Iskandar
14. Menteri Pekerjaan Umum : Djoko Kirmanto
15. Menteri Kesehatan : Endang Rahayu Setianingsih
16. Menteri Pendidikan Nasional : Mohammad Nuh
17. Menteri Sosial : Salim Segaf Al Jufri
18. Menteri Agama : Suryadharma Ali
19. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata : Jero Wacik
20. Menteri Komunikasi dan Informasi : Tifatul Sembiring
MENTERI NEGARA
1. Menteri Riset dan Teknologi : Suharna Suryapranata
2. Menteri Koperasi dan UKM : Syarifudin Hasan
3. Menteri Lingkungan Hidup : Gusti Muhammad Hatta
4. Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Amalia Sari
5. Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara : E.E Mangindaan
6. Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal : Ahmad Helmy Faishal Zaini
7. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional : Armida Alisjahbana
8. Menteri BUMN : Mustafa Abubakar
9. Menteri Pemuda dan Olahraga : Andi Alfian Mallarangeng
10. Menteri Perumahan Rakyat : Suharso Manoarfa
PEJABAT SETINGKAT MENTERI
1. Kepala BIN: Jenderal (Purn) Sutanto
2. Kepala BKPM: Gita Wirjawan
3. Ketua Unit Kerja Presiden Pengawasan Pengedalian Pembangunan: Kuntoro Mangkusubroto
http://www.detiknews.com/read/2009/10/21/222049/1226007/10/susunan-kabinet-indonesia-bersatu-ii
taukah kamu,
aku rindu melihat ekspresi wajahmu
yang selama ini hanya dalam angan
kuterbayang wajah cantik itu
meski tak pernah kutatap
tapi ku mencoba merasa
bagaimana rupa itu
dengan jutaan ekspresi yang dimiliki
ingin suatu hari
ku menjadi pria beruntung
yang kan menjadikan jutaan ekspresi
sebagai sumber tuk beribu inspirasi
aku rindu
pada semua kisah yang akan kita ukir di masa depan
yang didalamnya ikatan hati tak terlepaskan
paduan rasa kian melekat
dan kedekatan cinta tak bisa terlepas
aku rindu
pada masa datang yang kian mendekat
dimana kita kan bersama dalam peraduan hidup
dan kita kan lukis semua tawa yang tertebar dari kebahagiaan hati ini
aku rindu
padamu
bidadari yang selalu memberikan aku
sejuta alasan tuk selalu tersenyum
Menjelang pelantikan SBY-boediono tanggal 20 oktober ini, berbagai isu dan opini berkembang, dimana semakin banyak pihak yang bersikap skeptis dan pesimis terhadap pemerintahan Indonesia kedepan. Bukan karena sekedar faktor kompetensi SBY-boediono saja, atau keraguan akan kabinet Indonesia bersatu jilid 2 di masa yang akan datang. Akan tetapi keraguan ini justru muncul dari kekhawatiran mendasar dari sistem demokrasi. Yakni terkait peran dan fungsi Trias Politica, eksekutif, legislatif dan yudikatif.
Masyarakat menilai bahwa pemerintahan sekarang dan kedepannya akan di dominasi oleh eksekutif dan terjadi pelemahan terhadap peran dan fungsi dua lembaga lain dalam demokrasi Indonesia kini. Hal ini ditandai dengan berbagai kesepakatan politik yang terjadi antara partai yang berkuasa dengan beberapa partai lain dalam menentukan komposisi pimpinan MPR dan DPR. Semua seakan bergabung dengan pemerintah, pun partai politik yang kalah dan pernah berencana sebagai oposisi ketika masa pemilu silam. Sebutlah PDI-P dan Golkar yang ternyata tidak bisa dipegang ucapannya untuk menjadi oposisi ketika tidak memenangi PEMILU. Baru satu partai sedang HANURA yang sudah menyatakan kesediaannya sebagai Oposisi pemerintah.
Pentingnya peran dan fungsi oposisi dalam pemerintahan kita bertujuan sebagai check and balance bagi pemerintahan yang ada. Rakyat tidak akan rela jika lembaga eksekutif bertindak sesuai kemauannya saja tanpa ada kontrol dari rakyat yang diwakili oleh DPR. Jika kebebasan itu begitu besar, indikasi akan adanya rezim lanjutan untuk Indonesia tak pelak akan terwujud. Ini satu tantangan bagi kita semua tentunya, apakah kita akan menjadikan negara ini sebagai peternakan calon diktator ataukah kita akan semai bersama hasil dari reformasi yang telah diperjuangan selama lebih dari satu dekade ini.
Gejala menarik seputar pergerakan mahasiswa yang terekspos media massa belakangan ini adalah fragmentasi gerakan mahasiswa. Sebagian ikut meramaikan aksi mendukung atau menolak kandidat tertentu, ada yang bersikap moderat dan netral, dan ada yang bersikap ekstrem menolak pemilu dengan alasan-alasan tertentu pula. Sekalipun tampak terpecah, sesungguhnya terdapat persamaan pandangan mengenai kondisi bangsa dalam perspektif kekinian maupun masa depan. Para aktivis satu suara dalam menuntut perubahan kehidupan bangsa pada kondisi yang lebih baik. Hal ini wajar karena senyatanya perubahan inilah yang menjadi tujuan reformasi dan demokratisasi.
Bagi mahasiswa dengan segudang idealismenya, mencapai sebuah kemajuan tidak mengenal kata akhir. Untuk itu, sikap kritis dan ketidakpuasan terhadap sistem yang ada harus selalu melekat pada diri mahasiswa. Dengan sikap tersebut sama artinya mahasiswa telah menempatkan diri sebagai oposisi nonstruktural yang bisa mendatangkan manfaat bagi keberlangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dan jika sikap oposisi ini dilakukan secara bersama-sama, pasti bisa mendatangkan kekuatan berlipat ganda untuk mempercepat perbaikan bangsa. Begitu idealnya memang jika kita membicarakan tentang mahasiswa dan peranannya dalam memajukan bangsa.
Dengan status sebagai professional rebels againt all authority, mahasiswa menjadi elemen bangsa yang relatif bersih dari konflik kepentingan. Dan ini merupakan kesempatan besar kepada mahasiswa untuk bisa berjuang bersama rakyat, menyuarakan isi hati rakyat dan menjadi elemen paling penting dalam pembangunan bangsa. Gerakan ektraparlementer yang lebih bergema perlu kita kobarkan kembali, jika mahasiswa lengah di masa ini, maka kebangkitan rezim akan terjadi dan saat masa itu tiba, maka akan lebih sulit lagi bagi kita untuk memperjuangkan apa yang menjadi hak rakyat.
Hari ini 20 oktober 2009. Mahasiswa Indonesia akan turun kembali ke Jalan di depan Gedung megah DPR/MPR untuk menyuarakan isi hati rakyat dan menegaskan posisi mahasiswa sebagai oposisi pemerintah. Inilah jati diri mahasiswa yang senantiasa bersama rakyat membawa kepentingan rakyat dan menjadi elemen pendobrak segala kebuntuan dari harapan untuk Indonesia yang lebih baik.
Hidup Mahasiswa !
Hidup Rakyat Indonesia !
Demi Tuhan, untuk Bangsa dan Almamater
BOGOR, KOMPAS.com — Inilah susunan sementara anggota Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. Sebelumnya, ke-34 calon menteri dan dua calon pejabat tinggi ini mengikuti proses wawancara dan uji kepatutan dan kelayakan di kediaman presiden terpilih Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas Indah, Bogor.
SBY dan wakil presiden terpilih Boediono membutuhkan tiga hari untuk menguji ke-36 calon. Berikut ini adalah nama ke-34 calon menteri dan dua calon pejabat tinggi tersebut.
1. Menko Politik, Hukum, dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian: Hatta Rajasa
3. Menko Kesra: Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: Marty Natalegawa
7. Menteri Pertahanan: Purnomo Yusgiantoro
8. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: Suswono
14. Menteri Negara Urusan Koperasi dan UKM: Syarif Hasan
15. Menteri Perhubungan: Freddy Numberi
16. Menteri Kelautan dan Perikanan: Fadel Muhammad
17. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
18. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
19. Menteri Kesehatan: Nila Afansa Moeloek
20. Menteri Pendidikan Nasional: M Nuh
21. Menteri Agama: Suryadharma Ali
22. Menteri Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
23. Menneg Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
24. Menteri Sosial: Salim Assegaf Al’jufrie
25. Menneg Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
26. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
27. Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
28. Menneg Pendayagunaan Aparatur Negara: E.E. Mangindaan
29. Menneg Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
30. Menneg PPN/Kepala Bappenas: Armida Alisjahbana
31. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar
32. Menteri Komunikasi dan Informatika: Tifatul Sembiring
33. Menneg Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
34. Menneg Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng
Pejabat Setingkat Menteri
Kepala BIN: Jenderal Pol Purn Sutanto
Kepala BKPM: Gita Wirjawan
Berbicara tentang pendidikan tentu tidak bisa terlepas dari pembangunan karakter bangsa. Ir.Soekarno Presiden Pertama Republik Indonesia sering memunculkan istilah nation building dalam beberapa ceramah dan tulisan yang dibuatnya. Tak pelak memang maksud dari nation building adalah bagaimana pendidikan yang ada di bangku sekolah dan kuliah mampu membangun karakter yang kuat, dan berintegritas. Memang ternyata, pada akhirnya pendidikanlah yang mampu membuat sebuah bangsa maju atau mundur.
Kita bisa melihat bersama saat ini, berapa banyak pengangguran yang disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan, atau berapa banyak anak kecil yang putus sekolah karena sempitnya paradigma tentang investasi pendidikan oleh para orangtua yang notabenenya juga rendah dalam tingkat pendidikan. Hasilnya bisa kita lihat dengan apa yang kita lihat saat ini.
Negara Indonesia seakan tidak menjadi tuan rumah di negaranya sendiri, kita hanya menjadi host untuk negara lain, bukan sebagai master atas apa yang menjadi hak kita sebagai pemilik negara Indonesia beserta semua wilayah dan isinya. Dampak lain yang juga muncul adalah harga diri kita sebagai seorang Indonesia, yang tampaknya kita rela menjual harga diri ini untuk hanya sejumlah uang, dan bahkan rela menjual sesama orang Indonesia untuk kekayaan semu.
Kegagalan sistem pendidikan kita telah menghasilkan banyak koruptor dan perusak bangsa. Ini artinya ada hal yang perlu diperbaiki dari sistem pendidikan di Indonesia. Jika tidak segera diperbaiki bisa jadi akan menjadi bumerang untuk pembangunan Negara Maritim ini. Mengapa saya menyebutnya bumerang ? karena bisa jadi negara ini hancur bukan karena pengaruh luar, tetapi justru adanya penghancur dari dalam Indonesia itu sendiri, yakni orang Indonesia yang tidak memiliki kecintaan akan jati diri bangsanya.
Peran pendidikan akan sangat penting, dimana pendidikan tidak hanya berperan sebagai wahana untuk transfer ilmu, akan tetapi juga untuk pendidikan karakter. Peran pendidik akan lebih berat tentunya, karena ia tidak hanya berperan untuk mengajarkan ilmu begitu saja, tetapi juga menamkan nilai ke-Indonesia-an kepada para pelajar Indonesia.
Kurikulum pendidikan pun juga perlu dilakukan penyesuaian dimana materi yang diberikan harus lebih berdasar pada karakter bangsa, mengubah sistem evaluasi materi dengan tidak hanya menggunakan ujian tertulis sebagai sumber data untuk evaluasi, akan tetapi perlu juga dilihat aspek achievement tertentu yang diraih oleh seorang pelajar. Karena jika kita mampu membuat siswa mendapatkan suatu prestasi tanpa adanya tekanan yang bersifat pragmatis ( seperti : seorang siswa ingin mendapat nilai baik hanya karena ingin naik kelas ), akan tetapi harus dimulai dari satu kesadaran bahwa berprestasi akan bermanfaat untuk diri sendiri.
Dari pendidikan Indonesia akan mampu mengembalikan jati diri bangsa ini. Jati diri dan nilai luhur yang pernah menghasilkan seorang sekelas Muhammad Natsir, Bung Hatta dan HOS Cokroaminoto harus bisa di internalisasikan dengan baik ke para pemuda-pemudi harapan bangsa. Menjadi tanggung jawab bersama untuk menjadikan pendidikan di Indonesia lebih berkualitas dan berkarakter.
Demi Tuhan, untuk Bangsa dan Almamater
Berikut inilah daftar sementara ke-30 calon menteri/pejabat tinggi (Minggu, 18 Oktober 2009 | 18:59 WIB):
1. Menko Politik, Hukum, dan Keamanan: Marsekal TNI Purn Djoko Suyanto
2. Menko Perekonomian: Hatta Radjasa
3. Menko Kesra: Agung Laksono
4. Menteri Sekretaris Negara: Sudi Silalahi
5. Menteri Dalam Negeri: Gamawan Fauzi
6. Menteri Luar Negeri: —
7. Menteri Pertahanan: —
8. Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia: Patrialis Akbar
9. Menteri Keuangan: Sri Mulyani
10. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral: Darwin Zahedy Saleh
11. Menteri Perindustrian: MS Hidayat
12. Menteri Perdagangan: Mari Elka Pangestu
13. Menteri Pertanian: —
14. Menteri Perhubungan: —
15. Menteri Kelautan dan Perikanan: —
16. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi: Muhaimin Iskandar
17. Menteri Pekerjaan Umum: Djoko Kirmanto
18. Menteri Kesehatan: Nila F Djuwita Moeloek.
19. Menteri Pendidikan: M Nuh
20. Menteri Agama: Suryadharma Ali
21. Menteri Kehutanan: Zulkifli Hasan
22. Menneg Kebudayaan dan Pariwisata: Jero Wacik
23. Menneg Riset dan Teknologi: Suharna Surapranata
24. Menneg Koperasi dan UKM: Syarief Hasan
25. Menneg Lingkungan Hidup: Gusti Moh Hatta
26. Menneg Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak: Linda Agum Gumelar
27. Menneg Pendayagunaan Aparatur Negara: E.E. Mangindaan
28. Menneg Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal: Helmy Faisal Zaini
29. Menneg PPN / Kepala Bappenas: Salim Assegaf Al’jufrie
30. Menneg BUMN: Mustafa Abubakar
31. Menneg Komunikasi dan Informasi: Tifatul Sembiring
32. Menneg Perumahan Rakyat: Suharso Manoarfa
33. Menneg Pemuda dan Olahraga: Andi Mallarangeng
Pejabat Setingkat Menteri
1. Jaksa Agung: —
2. Sekretaris Kabinet: —
3. Kepala BIN: Jenderal Pol Purn Sutanto
4. Jubir Dalam Negeri: —
5. Jubir Luar Negeri: —
6. Kepala BKPM: Gita Wirjawan
Sumber : KOMPAS online
http://nasional.kompas.com/read/xml/2009/10/18/18590943/Sudah.30.Calon.Menteri.Diuji.di.Cikeas