Sekilas DR. Muhammad Natsir (sosok ulama pejuang yang komplit)

DR. Muhammad Natsir, dalam tulisan lain ada yang menulisnya Mohammad Natsir/Mohd. Natsir/M. Natsir, adalah putra kelahiran Alahan Panjang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat 17, Juli 1908, dengan gelar Datuk Sinaro Panjang.
DR. Muhammad Natsir adalah orang yang berbicara penuh sopan santun, rendah hati dan bersuara lembut meskipun terhadap lawan-lawan politiknya. Ia juga sangat bersahaja dan kadang-kadang gemar bercanda dengan siapa saja yang menjadi teman bicaranya. Mendapat ijazah perguruan tinggi dari Fakultas Tarbiyah Bandung.
Atas segala jasa dan kegiatannya pada tahun 1957 Natsir memperoleh bintang kehormatan dari Republik Tunisia untuk perjuangannya membantu kemerdekaaan Negara-negara Islam di Afrika Utara. Tahun 1967 dia mendapat gelar Doktor HC dari Universitas Islam Libanon dalam bidang politik Islam, menerima Faisal Award dari kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1980 untuk pengabdiannya pada Islam dan Dr HC dari Universitas Sains dan Teknologi Malaysia pada tahun 1991 dalam bidang pemikiran Islam dan terakhir baru diakui bangsa sendiri sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2008. gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta. Ia juga menerima gelar kehormatan akademik dari Universitas kebangsaan malaysia (UKM). Menjadi Perdana Menteri dalam usia 42 tahun, dan kembali ke haribaan Ilahi pada 6 Februari 1993 di Jakarta.Diakui bangsa sendiri sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2008 .
Begitu banyak kisah dan pelajaran yang bisa dituliskan tentang beliau (Beliau sendiri juga aktif menulis).Tapi sayang, kini pak Natsir nyaris diabaikan dan terlupa.
Daripada terabaikan, marilah kita baca kembali sekelumit daftar tulisan dan Aktivitas Sang Ulama pejuang, yang menulis banyak artikel dan buku di tengah-tengah padatnya aktivitas perjuangan, politik dan pemerintahan serta dakwah dan pembinaan umat. Diantara tulisannya adalah
Fiqhud Da’wah (Fikih Dakwah)
Ikhtaru Ahadas Sabilain (Pilih Salah Satu dari Dua Jalan)
Shaum (Puasa)
Al-Maratul Muslimah Wa Huququha (Hak-Hak Wanita Muslimah)
Al-Hadhoroh Al-Islamiyah (Peradaban Islam)
Al-Bina’ Wasthal Anqadh (Membangun di Tengah Reruntuhan)
At-Tarkib At-Thabaqi lil Mujtama’ (Struktur Sosial Masyarakat)
Ats-Tsaurah Al-Indunisia (Revolusi Indonesia)
Qadhiyatu Falisthin (Masalah Palestina)
Hal Yumkinu Fashlud Din ‘Anis Siyasah? (Mungkinkah Agama Dipisahkan dari Politik?)
Ishamul Islam Fil Silmi Al-’Alami (Sumbangsih Islam pada Perdamaian Internasional)
Al-Mal Was Sulthah Wal Mal Amanatun (Harta dan Kekuasaan adalah Amanah)
Ibdzarul Budzur (Taburlah Benih)
Al-Islam Wan Nashraniyah Fi Indunisia (Islam dan Kristen di Indonesia)
Thuba Lil Ghuraba (Berbahagialah Orang-Orang yang Terasing)
Al-Yadul Lati Lam Yataqabbalaha Ahad (Tangan yang Belum Dicium oleh Seorang pun)
Al-Iman Mashdarul Quwwah Azh-Zhahirah Wal Bathinah (Iman Sumber Kekuatan Lahir Batin)
Al-Khaufu Wal Isti’mar (Ketakutan dan Penjajahan)
Hina La Yastajabud Du’a (Ketika Do’a Tidak Dikabulkan)
Ad-Dinu Wal Akhlaq (Agama dan Moral)
Ad-Da’atu Wal Inma (Dakwah dan Perkembangan)
Khutbah Idul Fithri
Ma’al Ilam Nahwa Indunisia Al-Mustaqbalah (Bersama Islam Menuju Indonesia Masa Depan)
Tahta Zhilalir Risalah (Dibawah Naungan Risalah)
Zayyinud Dunya bi A’malikum Wa adhiul ‘Ashra bi Imanikum (Hiasai Dunia dengan Amal Kalian dan Sinari
Masa dengan Iman Kalian)
Ahyu Ruhul Mitsaliyah Wat Tadhiyah Marratan Ukhra (Hidupkan Kembali Semangat Keteladanan dan Pengorbanan)
Al-Islam Wa Hurriyatul Fikr (Islam dan Kebebasan Berpikir)
Al-Islam Ka asasid Daulah (Islam Sebagai Dasar Negara)
Islam Sebagai Idiologi
Al-Qalaqur Ruhi Fi Diyaril Gharb (Kegelisahan Batin di Negeri-Negeri Barat)
Al-Masjid Wal Qur’an Wal Indhibath (Masjid, Qur’an dan Kedisiplinan)
Ats-Tsaqafah Al-Islamiah
Dikutip dari buku”Mereka Yang Telah Pergi”
Tapi itu belum semua. Muhammad Natsir juga rajin menulis untuk majalah terkemuka seperti Pembela Islam, Panji Islam, Al Manar dan Pedoman Masyarakat.
Dalam tulisan-tulisannya di media massa, Natsir membela dan mempertahankan Islam dari serangan kaum nasionalis yang kurang mengerti Islam seperti Ir. Sukarno dan Dr. Sutomo. Khusus dengan Sukarno, Natsir terlibat polemik hebat dan panjang antara tahun 1936-1940an tentang bentuk dan dasar negara Indonesia yang akan didirikan. Natsir menolak ide sekularisasi dan westernisasi ala Turki di bawah Kemal Attaturk dan mempertahankan ide kesatuan agama dan negara. Tulisan-tulisannya yang mengeritik pandangan nasionalis sekuler Sukarno ini kemudian dibukukan bersama tulisan lainnya dalam dua jilid buku Capita Selecta.
Soekarno :
… apa yang telah diutarakan saudara Natsir sebelumnya sungguh menarik. Hanya saja saya berpendapat bahwa di dalam memahami ajaran agama, kita perlu menggunakan akal / rasio. Sebagai contoh, menurut ajaran Islam, kalau seorang Muslim anggota badannya terjilat oleh anjing, maka untuk menghilangkan najis akibat air liur anjing tersebut, anggota badan tersebut harus dibasuh 7 kali, salah satunya dengan menggunakan debu/tanah. Menurut hemat saya, apabila ajaran ini kita pahami dengan rasio, saya rasa akan lebih baik jika anggota badan tersebut dibasuh beberapa kali, lalu di sabun dan diberi ‘karbol’. Saya rasa ini akan lebih hiegenis.
Natsir :
Buah pikiran yang telah dikemukakan saudara Soekarno memang menarik untuk direnungkan. Akan tetapi menurut pemahaman saya sebagai seorang Muslim, yang lebih baik adalah: bagian anggota badan tersebut tetap dibasuh 7 kali, dan salah satunya tetap menggunakan tanah, sehingga memenuhi syarat kesucian berdasarkan agama. Lalu boleh ditambahkan penggunaan sabun dan karbol, supaya memenuhi syarat berdasarkan kesehatan.
Saat menulis di majalah Pembela Islam, Natsir menggunakan nama samaran A. Moechlis. Bukunya yang lain adalah Cultuur Islam (1936) ditulis oleh Muhammad Natsir bersama Porf. C.P. Wolf Kemal Schoemaker dalam bahasa Indonesia. Juga ada Mohammad als Proveet (1931), Gauden Regels Regels uit den Quran (1932) dan De Islamietische Vrouw en haar Recht (1933).
Dan itu semua juga belum semuanya. Meski kehidupan Muhammad Natsir banyak dihabiskan dalam perjuangan, pendidikan, politik, dakwah dan penjara, karya tulisnya tak surut apalagi berhenti. Mendidik masyarakat lewat tulisan-tulisannya yang bernas dan santun. Tulisannya, juga ceramah-ceramahnya, selalu dinanti dan diminati oleh umat yang merindukan kehidupan Islami.
Ternyata untuk bisa menulis, masalahnya bukan pada waktu dan kesempatan. Tapi pada…? Ah Anda jawab sendiri lah.
Baiklah untuk lekasnya, simak saja beberapa kiprah berikut jabatan strategis yang pernah diamanahkan kepadanya. Diantaranya (tak terurut waktu) :
1. Ketua Jong Islamieten Bond, Bandung.
2. Mendirikan dan mengetuai Yayasan Pendidikan Islam di Bandung.
3. Direktur Pendidikan Islam, Bandung.
4. Menerbitkan majalah Pembela Islam, dalam melawan propaganda misionaris Kristen, antek-antek penjajah dan kaki tangan asing.
5. Anggota Dewan Kabupaten Bandung.
6. Kepala Biro Pendidikan Kota Madya (Bandung Shiyakusho).
7. Memimpin Majelis Al Islam A’la Indunisiya (MIAI).
8. Menjadi pimpinan Direktorat Pendidikan, di Jakarta.
9. Sekretaris Sekolah Tinggi Islam (STI) Jakarta.
10.Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP)
11.Anggota MPRS.
12. Pendiri dan pemimpin partai MASYUMI (Majlis Syuro Muslimin Indonesia). Dalam pemilu 1955, yang dianggap pemilu paling demokratis sepanjang sejarah bangsa, Masyumi meraih suara 21% (Masyumi memperoleh 58 kursi, sama besarnya dengan PNI. Sementara NU memperoleh 47 kursi dan PKI 39 kursi). Capaian suara Masyumi itu belum disamai, apalagi terlampaui, oleh partai Islam setelahnya, hingga saat ini.
13. Menentang pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) oleh Belanda dan mengajukan pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Hal ini dikenal dengan Mosi Integrasi Natsir. Akhirnya RIS dibubarkan dan seluruh wilayah Nusantara kecuali Irian Barat kembali ke dalam NKRI dengan Muhammad Natsir menjadi Perdana Menteri-nya. Penyelamat NKRI, demikian presiden Soekarno menjuluki Natsir.
14. Menteri Penerangan Republik Indonesia.
15. Perdana Menteri pertama Republik Indonesia.
16. Anggota Parlemen. Penentang utama sekulerisasi negara, pidatonya “Pilih Salah Satu dari Dua Jalan; Islam atau Atheis” di hadapan parlemen, memberi pengaruh yang besar bagi anggota parlemen dan masyarakat muslim Indonesia.
17. Anggota Konstituante.
18. Menyatukan kembali Aceh yang saat itu ingin berpisah dari NKRI.
19. Mendirikan dan memimpin Dewan Dakwah Islam Indonesia (DDII), yang cabang-cabangnya tersebar ke seluruh Indonesia.
20. Wakil Ketua Muktamar Islam Internasional, di Pakistan.
21. Aktif menemui tokoh, pemimpin dan dai di negara-negara Arab dan Islam untuk membangkitkan semangat membela Palestina.
22. Anggota Dewan Pendiri Rabithah Alam Islami (World Moslem League), juga pernah menjadi sekjennya. Natsir adalah pemimpin dunia Islam yang amat dihormati—Sekretaris Jenderal Rabitah Alam Islami meminta hadirin berdiri saat pak Natsir memasuki ruang sidang organisasi dunia Islam itu.
23. Anggota Majelis Ala Al-Alamy lil Masajid (Dewan Masjid Sedunia).
24. Presiden The Oxford Centre for Islamic Studies London.
25. Pendiri UII (Universitas Islam Indonesia) bersama Moh. Hatta, Kahar Mudzakkir, Wahid Hasyim, dll. Juga enam perguruan tinggi Islam besar lainnya di Indonesia.
26. Ketika presiden Soeharto kesulitan menuntaskan konforontasi Indonesia-Malaysia (yang dimulai presiden Soekarno), berkat bantuan dan jasa hubungan baik Natsir dengan Perdana Menteri (PM) Tengku Abdul Rahman, Malaysia membuka diri menyelesaikan konfrontasi, dan Letjen TNI Ali Moertopo, Asisten Pribadi (Aspri) Presiden Soeharto, diterima/berunding pejabat Malaysia.
27. Berkat jasa hubungan baik Natsir dengan PM Fukuda juga, pemerintah Jepang bersedia membantu Indonesia setelah perekonomian negara ambruk di masa Orde Lama dan setelah pemberontakan G 30 S/PKI.
28. Karena jasa baik dan pengaruh ketokohan DR. Muuhammad Natsir pula, Presiden Soeharto diterima di negara-negara Timur Tengah dan Dunia Islam. Natsir adalah anak bangsa Indonesia yang pernah menjadi tokoh Dunia Islam yang begitu dihormati sepanjang sejarah Indonesia—bahkan sampai sekarang.
Dan masih banyak lagi. Kiprahnya memang tak pernah selesai menjadi buah pembicaraan. Ketokohannya tidak hanya dikenal di Indonesia. Tapi juga di dunia Islam. Abdullah Al-’Aqil dalam bukunya, Min A’lami Al-Harakah wa Ad-Da’wah Al-Islamiyah Al-Mu’ashirah, menulis biografi singkat DR. Muhammad Natsir (satu-satunya dari Indonesia), beserta 70 tokoh dunia Islam lainnya dari dari berbagai negara. Diantara tokoh-tokoh itu ada Syaikh Umar Tilmisani, Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Abul A’la Al-maududi, Said Hawwa, Asy-Syahid Sayyid Quthb dan Abdullah Azam.
Sebuah majalah dari Kuwait pernah bertanya kepada pak Natsir tentang tokoh-tokoh yang berpengaruh pada diri dan perjuangannya. Jawabnya, “Haji Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini, Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna dan Imam Hasan Al-Hudhaibi. Sedang tokoh-tokoh Indonesia adalah Syaikh Agus Salim dan Syaikh Ahmad Surkati.”
DR. Muhammad Natsir memang termasuk tokoh langka. Ini diakui salah satunya George McT Kahin, Guru Besar Cornell University. “Saat pertama kali berjumpa dengannya di tahun 1948, pada waktu itu ia Menteri Penerangan RI, saya menjumpai sosok orang yang berpakaian paling camping (mended) di antara semua pejabat di Yogyakarta. Itulah satu-satunya pakaian yang dimilikinya, dan beberapa minggu kemudian staf yang bekerja di kantornya berpatungan membelikannya sehelai baju yang lebih pantas, mereka katakan pada saya, bahwa pemimpin mereka itu akan kelihatan seperti ‘menteri betulan’,” kata Kahin menceritakan sosok Natsir.
Buya Hamka yang selain dikenal sebagai ulama juga seorang sastrawan, kita mengenal salah satu novelnya Dibawah Lindungan Ka’bah yang difilmkan, menulis sebuah puisi untuk pak Natsir.
Saat itu berlangsung Sidang Konstituante (1957). Pak Natsir berpidato di Sidang Konstituante memaparkan kelemahan sekularisme. Dikatakannya sekularisme sebagai paham tanpa agama (la diiniyah). Sekularisme adalah suatu cara hidup yang mengandung paham, tujuan, dan sikap hanya di dalam batas keduniaan.
”Seorang sekularis tidak mengakui adanya wahyu sebagai salah satu sumber kepercayaan dan pengatahuan. Ia menganggap bahwa kepercayaan dan nilai-nilai itu ditimbulkan oleh sejarah ataupun oleh bekas-bekas kehewanan manusia semata-mata dan dipusatkan kepada kebahagiaan manusia dalam kehidupan sekarang ini belaka”.
”Jika dibandingkan dengan sekularisme yang sebaik-baiknya pun, maka adalah agama masih lebih dalam dan lebih dapat diterima oleh akal. Setinggi-tinggi tujuan hidup bagi masyarakat dan perseorangan yang dapat diberikan oleh sekularisme, tidak melebihi konsep dari apa yang disebut humanity (perikemanusiaan). Yang menjadi soal adalah pertanyaan, ”Dimana sumber perikemanusiaan itu?”
Dalam pidato di Majlis Konstituante itu Muhammad Natsir dengan tegas menawarkan kepada Sidang Konstituante agar menjadikan Islam sebagai dasar negara RI. Buya Hamka pun terpana dengan pidato Natsir itu, sampai menuliskan sebuah puisi khusus untuk Natsir.
Kepada Saudaraku M. Natsir
Meskipun bersilang keris di leher
Berkilat pedang di hadapan matamu
Namun yang benar kau sebut juga benar
Cita Muhammad biarlah lahir
Bongkar apinya sampai bertemu
Hidangkan di atas persada nusa
Jibril berdiri sebelah kananmu
Mikail berdiri sebelah kiri
Lindungan Ilahi memberimu tenaga
Suka dan duka kita hadapi
Suaramu wahai Natsir, suara kaum-mu
Kemana lagi, Natsir kemana kita lagi
Ini berjuta kawan sepaham
Hidup dan mati bersama-sama
Untuk menuntut Ridha Ilahi
Dan aku pun masukkan
Dalam daftarmu …….!
(Ditulis Hamka di Ruang Sidang Konstituante pada 13 November 1957, setelah mendengar pidato Moh. Natsir di Majlis Konstituante.)
Dan aku pun masukkan. Dalam daftarmu …….!
Daftar apakah itu? Mau mendaftar apa Buya Hamka…?
Wallohu ‘Alam…!!!!!
(Diambil dari Berbagai Sumber)
kang ucup…kumaha kabarna??baa kaba kini??
waaahh….baru tau kalo M.Natsir orang minang…hehe…
dulu cuma tau M.natsir doank..ga tau asalnya darimana…
saya jadi bangga ne kang…karna orang sekampung saya bisa seperti itu…semoga saya juga bisa seperti itu…amin…
Beliau sudah melakukan segala yang ia bisa. Kini giliran kita sebagai penerusnya, untuk melanjutkan misi hidupnya: Mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan konsep negara.
Insya Allah!