Berbicara tentang eco-campus, tentu akan terlintas dalam benak kita tentang sebuah kampus yang segala sesuatu yang di dalamnya sangat ramah lingkungan. Memang isu lingkungan belakangan ini menjadi buah bibir dari berbagai kalangan. Ada yang sangat pro hingga sangat vokal dalam bersuara, hingga ada kalangan yang menganggap isu pemanasan global hanya sekedar hoax belaka. Terlepas dari itu semua, pada dasarnya kita sepakat bahwa lingkungan harus di jaga, karena ia yang akan memastikan skilus kehidupan berjalan dengan baik.
Kampus sebagai sebuah mega-struktur pendidikan yang di dalamnya terdapat berbagai elemen yang sedang mencoba memutar roda peradaban, tentu diharapkan sangat dapat menjadi satu percontohan bagaimana komunitas yang ramah lingkungan itu diterapkan. Kita berbicara komunitas, karena memang komunitas lah elemen terkecil setelah manusia dalam satu tatanan masyarakat dunia. Jika pada skala komunitas perbaikan itu bisa terwujud, maka bukan hal yg sulit tentunya perbaikan pada skala yang lebih besar dapat terwujud.
Disinilah peran perguruan tinggi atau kampus untuk memberikan satu pencerahan kepada masyarakat. Dengan memulai satu tatanan masyarakat dalam komunitas yang modern, yakni masyarakat yang memiliki paradigma yang baik tentang lingkungan ( eco-minded ). Dengan adanya masyarakay yang memiliki paradigma ini, perubahan menuju tatanan masyarakat yang berbasis lingkungan.
Berbicara tentang bagaimana menjadikan masyarakat yang peduli lingkungan, tentu dimulai dari pendidikan tentang pola hidup ramah lingkungan itu sendiri. Karena karakter inilah yang akan menjadi penguat untuk pembentukan komunitas berbasis lingkungan. Ini yang akan menjadikan nantinya eco-campus itu terinternalisasi dengan baik. Tidaklah perlu terlalu tergesa-gesa bahwa sebuah kampus sudah green campus atau eco-campus, karena seperti yang diutarakan di awal, bahwa eco-community bukanlah apa yg terpampang atau terlihat secara fisik seperti pembangunan sarana atau fasilitas, tetapi berada pada individu di sebuah komunitas itu yang sudah eco-minded.
Untuk pendidikan dan pembudayaan ini tentu butuh waktu dan proses, poin terpentingnya adalah terus menerus mempropagandakan hal ini dengan repetisi yang tepat. Lalu, memulai pembudayaan dengan hal yang sederhana, seperti penggunaan kertas dengan baik, mengalihkan penggunaan surat kertas ke e-email, penghematan penggunaan air, pengurangan jumlah kendaraan bermotor secara berkala hingga penghematan listrik untuk hal yang berlebihan.
Selanjutnya, dimulailah pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan secara berkala seperti tempat penyimpanan sepeda yang diharapkan bisa menstimulus penggunaan sepeda ke dan di dalam kampus, tempat sampah yang terpilah sesuai prinsip pemilahan sampah ( organik dan non-organik ), menerapkan konsep zero waste event untuk kegiatan kegiatan yang dijalankan. Hal-hal sederhana ini bisa dilakukan pada langkah awak.
Jika sudah pada tahap pembangunan fasilitas yang lebih terstruktur, pembangunan / renovasi gedung agar bisa memanfaatkan ventilasi dan jendela sebagai sumber udara dan cahaya sehingga bisa melakukan penghematan listrik, sistem rain water harvesting agar air hujan yang turun tidak terbuang begitu saja, green roof top agar tampak lebih hijau dan teduh, meminimalkan penggunaan aspal atau alas jalan yang tidak menyerap air, dan berbagai hal lainnya. Tetapi tentu semua ini bisa sustain, jika mayoritas anggota dalam komunitas adalah seorang yang eco-minded.
ITB sebagai kampus teknologi dan mengedepankan ilmu pengetahuan sebagai dasar menginspirasi, memiliki kesempatan untuk menjadi pionir eco-campus pertama di Indonesia. Tentu dengan proses dan ekskalasi yang benar. Tahun 2012 adalah waktu yang dirasa tepat untuk merampungkan semua. Dan hingga tahun itu, pendidikan lingkungan dan pembangunan ITB yang berbasis lingkungan bisa lakukan.
Wah,,luar biasa abang ucup ini..
ayo bang kita bareng2 membangun Eco-minded di negeri ini..
spupu..
fariz
yuk yuk… dibuat jadi eco-minded nih masyarakat itb… semangaaat
Bagus gagasannya, yang terpenting adalah bagaimana dapat mengubah perilaku civiras akademika untuk ramah lingkungan, yang biasanya hanya dipersepsikan terhadap lingkungan fisik, tetapi juga lingkungan sosial… ramah terhadap sesama warga kampus, ramah terhadap tetangga sekitar dst.
Masih ada yg berkomentar ITB jangan mengeluh soal macet, siapa yangbikin macet ? dst…. jangan2 malah dicap sebagai ego-campus
OK, tapi saya mendukung gagasan2 tersebut … ada tim dosen sdg punya paket penelitian ecocampus ini…. harus satu semangat dan konsep bersama mhs.
bu myra yang terhormat ( jadi minder bu myra kasih komen)
iya ibu, hal yang perlu dibangun di awal adalah eco-minded dan eco-lifestylenya… hal yang paling sederhana selain membuang sampah pada tempatnya adalah pembatasan penggunaan mobil atau motor pribadi ke kampus.
infrastruktur untuk eco-campus akan berjalan dengan baik bila masyarakat kampus sudah siap. ini menjadi tantangan memang, sehingga seluruh pemangku kepentingan di kampus ini harus berusaha agar eco-campus ini bisa terwujud.
salam hangat,
mahasiswa ibu
yusuf
PL05046
Keren tu bang utuk gagasany, apa lgi say ini mau buat TA tentang SPK Eco Kampus di Papua……mari kita canangkan untuk merupah prilaku warga kampus, masyarakat peduli dan berbudaya lingkungan, walaupun say bukan orang lingkungan.