Aku percaya pada musik seperti anak kecil yang percaya pada dongeng, musik ada dimana-mana yang perlu kita lakukan hanya mendengar dan percaya” -August Rush-
Saya pun juga percaya seperti anak kecil yang antusias mendengar legenda, inspirasi ada dimana-mana yang perlu kita lakukan hanya mendengar dan merasakan kehadirannya. Inspirasi itu bisa datang di saat sempit maupun lapang, kala berpikir maupun termenung, atau ketika sedang bersama sahabat-sahabat maupun sendiri.
Inspirasi itu tidak harus datang dari hal-hal yang besar. Terkadang, hal-hal kecil yang sering kali luput dari perhatian orang-orang itulah yang biasanya menimbulkan pertanyaan, ide, inspirasi yang dapat membuat kita berbuat sesuatu. Setiap orang mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam melihat setiap hal. Karena itu sumber inspirasi setiap orang pun berbeda-beda.
Saya selalu membayangkan bila ada sebuah lingkungan yang penuh dengan inspirasi, kemanapun mata melihat inspirasi selalu ada menanti, sejauh apapun langkah ditempuh inspirasi selalu saja menemani. Sungguh indahnya lingkungan tersebut bila benar adanya, dan akan lebih indah lagi bila inspirasi tersebut berasal dari kalimat Ilahi.
Dakwah Kampus yang telah bergulir lebih dari dua dekade belakangan ini memiliki tujuan mulia yaitu membentuk bi’ah Islamiyah atau lingkungan yang bernilaikan Islam di kampus. Saya sangat meyakini bahwa inspirasi Islam dapat diterima oleh setiap insan manusia, karena sudah sangat sesuai dengan fitrah manusia, pertanyaannya adalah bagaimana setiap da’I mampu menebar cita-rasa inspirasi Islam ini dengan baik.
Sebagai contoh sebuah masakan, Nasi Goreng, se-sedap apapun nasi goring, bila ia tidak disajikan dengan cara yang tepat, tentu cita rasanya akan berkurang atau bahkan hilang. Sahabat semua, tentu tidak pernah membayangkan kan memakan nasi goring di dalam batok kelapa ?.
Analogi diatas adalah sebuah kiasan yang sering digunakan untuk menggambarkan bahwa menyampaikan inspirasi itu harus dengan “cara yang baik”. Sebagaimana Nabi Muhammad SAW juga telah mencontohkannya ketika dulu berdakwah semasa hidupnya. Beliau menyiapkan setiap sahabat agar dapat berdakwah di komunitas tertentu, sesuai dengan kapasitas dan keahliannya masing.
Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasul bersabda “seorang yang dekat dengan pedagang minyak wangi akan terkena harumnya, dan seorang yang berdekat dengan pandai besi akan terkena bau besinya”. Sebagai seorang muslim, kita tidak hanya dihimbau untuk mendekati seorang yang dipercaya atau bijak, lebih dari itu, sebagai seorang muslim kita dituntut untuk bisa menjadi seorang yang dipercaya dan bijak tersebut.
Seorang Da’I adalah inspirasi buat komunitasnya, ia adalah sumber ide dan gairah perubahan, ia pulalah yang menggerakan komunitas ke arah yang lebih baik. Ia ditantang untuk dapat memimpin dan melayani komunitas tersebut, sehingga anggota di dalam komunitas dapat merasakan kehadirannya secara positif dan kehadiran nilai Islam dengan cara yang indah.
INSPIRATIA FLAVA, cita rasa inspirasi, tantangan bagi Da’I masa kini adalah bagaimana mampu beradaptasi dengan perubahan sosial yang terjadi dan menemukan sebuah formulasi dakwah yang paling tepat agar semakin banyak insan manusia yang tercerahkan dengan kebaikan yang ditebarkan oleh Islam.
Dua buah gagasan besar penuh cita rasa yang akan menjadi pendahuluan dari buku ini adalah optimasi dakwah komunitas dan dakwah berbasis web 2.0. Kedua gagasan ini akan memulai perjalanan cita rasa lain di buku ini. Kenapa dakwah komunitas dan dakwah berbasis web 2.0 menjadi sebuah cita rasa khusus ? sederhana saja prinsipnya, kedua cita rasa ini telah mengembalikan semangat dan hakekat seorang Da’I sebagai sebuah penyeru secara utuh. Penulis butuh sedikit meluruskan, bahwa dakwah di kampus bukanlah tentang rapat, menempel poster, atau mengikuti diklat saja, itu adalah sebuah kerja organisasi. Tetapi kita coba kembali ke hakekat Da’I, bagaimana agar setiap kader dakwah di kampus dapat menjadi agen dakwah yang berpengaruh. Ia berdakwah langsung dari dirinya baik secara lisan maupun tulisan dan dengannya mengisi ruang-ruang hati para mahasiswa lainnya dengan nilai-nilai Islam.
Dakwah Komunitas dan Dakwah berbasis web 2.0 akan menjadi ujian tersendiri bagi seorang Da’I. Kapasitas dirinya sebagai penyeru, pengajak kebaikan, dan teladan di uji melalui ruang public yang ada dan ruang maya yang bisa diciptakan. Bisakah seorang Da’I meningkatkan kapasitas pemahaman Islamnya dan menyeru kepada kebaikan dimanapun ia berada, ataukah bisa seorang Da’I rutin menyampaikan pesan kebaikan melalui jejaring dunia maya yang saat ini sangat mudah untuk diakses oleh siapapun.