Den Haag, 22 September 2012
Ceritanya tepat 16 tahun lalu, saya (dan keluarga tentunya) diuji oleh Allah dengan sebuah penyakit bernama Leukemia (bahasa kerennya : Acute Lymphoblastic Leukemia).
Tahun 1996, saat itu, penyakit ini masih unik. Pengobatannya masih jarang di negeri ini, lebih tepatnya jarang yang bisa hidup setelah terkena penyakit ini.
Tetapi Allah mengizinkan saya menjadi satu dari sekian yang sedikit itu un
Saya pun kadang berpikir demikian; “eh gw masih hidup ya?”
Faktanya memang setelah 3 tahun pengobatan ditambah 3 tahun lagi masa monitoring saya dinyatakan secara medis sembuh dari Leukemia. Alhamdulillah. Rasa syukur yang sangat mendalam kepada Allah, Sang Pemilik Dunia ini.
Tetapi, sebenarnya setelah sembuh, dan menjadi “the selected few” atau istilah kerennya “survivor”. saya jadi banyak bertanya tentang hidup saya di kemudian hari.
Alhamdulillah saya selalu naik kelas walau saya sakit lama. saat itu saya sekitaran SMP, saya berpikir; apa saya bisa pinter dan masuk perguruan tinggi bagus, apakah saya bisa bersosialisasi, apakah saya bisa menikah, apakah nanti ada yg mau sama saya, apakah kalau pun ada yang mau saya bisa punya anak, dan apakah nanti anak saya akan sakit juga seperti saya, dan berbagai kegalauan lainnya.
Waktu itu karena juga masih bocah, saya hanya berpikir, “yawda deh, dijalanin aja dengan yang terbaik”. Yah akhirnya saya jalani aja hidup saya.
Saya terus bertanya ke Dokter tentang masa depan saya, dan kegalauan saya. Ia terus meyakinkan saya kalau saya akan baik-baik saja, meski ketika saya tanya siapa contoh suksesnya, ia juga blm bisa menyebutkan contoh yang benar-benar sukses.
Hingga ketika SMA saya membulatkan tekad, “kalau memang belum ada benar-benar berhasil setelah terkena Leukemia, maka saya saja jadi yang pertama”. Tampak muluk, tapi saya pikir, kenapa tidak?
Alhamdulillah atas izin Allah, saya masuk di salah satu PTN terbaik di Indonesia (artinya Leukemia tidak berdampak pada otak), di ITB saya menghabiskan 2.5 tahun sebagai Kepala dan Presiden (artinya leukemia tidak mempengaruhi kemampuan seorang utk bersosialisasi).
setelah lulus, saya bisa bekerja dan punya prospek yang baik (artinya Leukemia tetap bisa membuat kamu berkompetisi), lalu akhirnya ada juga yang mau nikah sama saya (artinya Leukemia tidak mengurangi kadar ke-keren-an seseorang).
Alhamdulillah saya 1.5 bln lalu punya anak (artinya Leukemia tidak pengaruhi sistem reproduksi), dan kata Dokter anak saya sangat sehat (artinya Leukemia tidak pengaruh secara genetis ke anak).
Dulu, inget banget, Dokter pernah menyarankan saya ke Belanda untuk pengobatan Leukemia saya, karena menurut dokter di Belanda lebih baik.
Yah Akhirnya memang saya ke Belanda, tetapi bukan untuk pengobatan diri saya. Tapi untuk belajar dan mengobati Indonesia kelak.
Semoga Allah selalu menyertai kesehatan untuk kita semua
#refleksimahasiswaesdua
Subhanalloh, bisa tetap berhusnudzon dg ap yang Allah berikan, “Yah Akhirnya memang saya ke Belanda, tetapi bukan untuk pengobatan diri saya. Tapi untuk belajar dan mengobati indonesia kelak”
Kereeen. Inspirasi buat semua orang ini. Sangat memotivasi buat siapapun yang sedang mengalami leukimia. Subhanallah.
Inspiratif banget bang ucup. Luar biasa!
suka dua kalimat ini:
“kalau memang belum ada benar-benar berhasil setelah terkena Leukemia, maka saya saja jadi yang pertama”
“Yah Akhirnya memang saya ke Belanda, tetapi bukan untuk pengobatan diri saya. Tapi untuk belajar dan mengobati Indonesia kelak.”
terima kasih utk inspirasinya