Ceritanya ada seorang sastrawan dari perancis bernama Victor Hugo yang menuliskan (ini kira-kira terjemahannya) :
“Bangsa Eropa sangat berhak atas tanah Afrika, karena tanah Afrika adalah milik Tuhan yang diberikan kepada Bangsa Eropa”
Kalimat ini sangatlah ampuh bagi para kaum kolonial di masa lalu. semangat Glory, Gold and Gospel menjadi jargon yang sangat efektif bagi mereka untuk terus menjajah dan “menyelamatakan” bangsa afrika dari kegelapan dan kebodohan.
Benarkah ?
sederhananya, alasan itu bangsa eropa adalah karena kebutuhan mereka. kebutuhan akan sumber daya alam dan manusia, dan kebutuhan akan pasar. akibat dari industrialisasi, mereka memproduksi barang berlebihan. tentu butuh di jual, dan mereka memang mendesain negara yang mereka koloni sebagai negara konsumen bagi produk yang mereka buat.
Kini telah lewat setengah abad sejak perang dunia kedua berakhir. perang ini juga menandakan akhir dr era kolonialisme dan menjadi awal dari era kapitalisme.
hmm… ataukah kapitalisme adalah bentuk “lembut” dari kolonialisme ?
pola dan skema yang terjadi sangatlah serupa. ada negara produsen dan konsumen. ada negara penghasil bahan baku, ada negara yang produksi.
ada intervensi sosial bahkan hukum dan politik. ada negara lemah, dan ada negara yang kaya.
apalagi bila mengacu pada teori neo-keynessian. mereka membutuhkan orang miskin, dan orang yang penganguran agar teori ekonomi mereka terbukti.
lalu bila ada kampanye berantas kemiskinan dan pengangguran, bukankah itu hanya menjadi omong kosong belaka ?
lantas, buat apa kita mendengarkan apa yang orang barat “ajarkan” kepada Indonesia ?
itu refkleksi bodoh saya. bagaimana pendapat kamu ?
#refleksibodohmahasiswaesdua
i think so