Den Haag, 30 Oktober 2012
Ceritanya salah satu kampanye yang seringkali diangkat kepermukaan dunia adalah tentang ‘good governance’. terminologi ini memang sangat normatif dan multi-interpretatif. pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah, ‘good dalam hal apa dan bagi siapa?’
bila kita melihat asal-muasal ‘good governance’ ini memang menarik. di promosikan oleh agensi pembangunan internasional yang tentunya di dukung oleh para kapitalis yang ingin mendapat keuntungan besar.
semangat dari ‘good governance’ salah satunya adalah agar bagaimana pemerintah (eksekutif, legislatif, yudikatif) bisa mengembangkan pemerintahannya dengan melibatkan NGO, lembaga donor, institusi internasional, perusahaan swasta, dan pasar sebagai mitra strategis. mereka menyebutnya ‘multi stakeholders”.
apa yang terjadi ? proses globalisasi membuat beberapa negara mulai kehilangan fungsi strategisnya. sebutlah di uni eropa, berbagai kebijakan ekonomi telah ditarik dari level negara ke level uni eropa.
entah apa yang akan terjadi bila asean community terbentuk? adakah peraturan dan kewenangan yang sebenarnya menunjukkan kedaulatan sebuah negara menjadi semakin hilang ?
pada akhirnya, dengan perubahan ini, istilah kerennya shifting upward, negara menjadi kehilangan kendali, dan sebuah tatanan dunia baru semakin terbentuk. pada titik ini, dunia akan lebih mudah diatur, karena entitas semakin sedikit dan homogen.siapa yang mengatur ? pasarlah yang mengatur.
pertanyaan selanjutnya adalah, setelah sebuah negara telah ‘good enough’ dalam menjalankan ‘ governance’ , lalu apa ? tenang saja, nanti pasti istilah lagi. seperti sekarang PBB sedang coba bahas, agenda pembangunan setelah 2015 (berakhirnya MDGs).
refleksi bodoh saya mengatakan kenapa kita harus mengikuti terminologi abstrak yang para pembuatnya pun tidak bisa definisikan secara baik. ‘good’ atau ‘bad’ itu kan relatif. setiap negara punya kekhasan, itulah yang sering disebut dengan kearifan lokal.
berbicara ekonomi dan politik, saya percaya bisa kita komparasikan dengan ilmu kedokteran. Dokter Indonesia jauh lebih pandai mengobati demam berdarah, dan malaria. kenapa ? karena mereka tinggal di lingkungan tropis dan penyakit ini sering ditemui.
dokter belanda menghadapi malaria dan demam berdarah bisa jadi kewalahan. artinya apa ? ini menjadi tantangan bagi kita untuk menemukan formulasi ‘good’ versi kita dalam hal pemerintahan, ekonomi, dan tatanan sosial.
#refleksimahasiswaesdua
Reblogged this on Ruli Ismawati.