Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Pengendalian Diri


Den Haag 8 Maret 2013

self_control

Ceritanya ketika dulu sedang mengerjakan skripsi sarjana, saya punya seorang pembimbing yang bisa dikatakan bijak terutama dalam memaknai kehidupan. Sehingga sesi bimbingan saya tidak hanya di isi oleh bimbingan akademik, namun juga bimbingan jiwa.

Salah satu pesan yang selalu saya ingat adalah tentang pengendalian diri. Beliau kerap mengatakan kunci kehidupan adalah pengendalian diri. Tidak senang berlebihan saat berhasil, dan tidak sedih berlebihan saat gagal. percaya dan yakin bahwa dunia itu adalah perjalanan mencari Cinta-Nya, dan apa yang kita miliki hanya titipan semata; karena pada dasarnya kita lahir tanpa apa-apa.

Beliau juga selalu mengingatkan saya tentang kunci kepemimpinan juga adalah pengendalian diri. Dan pernah berpesan kalau suatu saat saya masuk politik, kuasai dulu pengendalian diri, tuntaskan dulu diri kita, baru masuk politik.

Saya mencoba melihat fenomena politik yang belakangan terjadi dan dikaitan dengan konsep pengendalian diri ini. Melihat empat partai politik yaitu Golkar, PKS, PDIP, dan Demokrat.

Golkar ini partai lama dan memiliki sistem yang modern. Kala ada anggotanya terkena korupsi, partai ini langsung bersigap dengan dua cara; meredam opini media karena mereka punya media atau segera melepaskan label golkar dari anggotanya tersebut. Dan walau mereka memiliki friksi di dalam partai, anggotanya masih mampu mengendalikan diri dengan hanya berekspresif di dalam partai saja.

PKS adalah partai baru yang belakangan diterpa kasus sapi. banyak yang mengira partai ini akan hancur lebur tak berbekas setelah Presidennya dicokol menjadi tersangka. Berbagai pengamat langsung berceloteh tentang habisnya masa depan PKS dan sebagainya. Tetapi saya perlu menyampaikan apresiasi kepada PKS yang berhasil mengendalikan dirinya dengan baik. Anggota mereka tidak termakan opini, kesolidan terbentuk, dan justru semangat membara. Terbukti, PKS baru saja menggapai dua kemenangan di jawa barat dan sumatera utara. Partai ini berhasil meredam semua gejolak, efektif melakukan konsolidasi internal, dan berhasil merebut kepercayaan rakyat, setidaknya di dua provinsi. tantangan bagi PKS adalah bagaimana agar euforia dua kemenangan ini tidak membuat anggotanya lupa diri dan senang berlebihan.

PDIP ini lain lagi, berharap bisa meniru kharisma Jokowi di DKI jakarta. beberapa anggotanya yang maju jadi Calon gubernur mengikuti gaya-gaya jokowi, salah satunya dengan baju kotak-kotak. Dari sulawesi selatan, Jawa barat, hingga sumatera utara. Mereka berharap besar Jokowi Effect bisa tertular kepada anggotanya yang lain. Apa daya, justru kegagalan yang didapatkan. Fenomena lainnya adalah kemampuan mengendalikan diri para pimpinan PDIP di tingkat nasional. mereka cenderung mengutus ‘orang pusat’ untuk menjadi calon gubernur di tingkat provinsi. salah yang terakhir adalah seorang Ganjar di jawa tengah, padahal mereka punya sosok rustriningsih disana.

Demokrat, partai ini bak sinetron tak berujung diakibatkan kegagalan partai ini memupuk kedewasaan para anggotanya dalam pengendalian diri. semua anggota partai ini saling hujat, saling menyalahkan, dan saling teriak di media. semua seakan muncul dengan arogansinya. belakangan mantan ketua umum dan ketua fans club demokrat saling bermain zero sum game. dengan saling mengancam, dan pura-pura mendoakan. Demokrat paling kena apes dari kegagalan anggotanya dalam pengendalian diri, seorang dede yusuf yg di curigai bisa menang di Jawa Barat harus puas dengan menjadi urutan ketiga.

Refleksi bodoh saya mengatakan pengendalian ini benar adanya merupakan kunci dalam meraih keberhasilan. baik pada seorang individu maupun kolektif kelompok. maka wajarlah bila kita bicara perubahan, kita akan memulai dari kemampuan diri ini dalam menggapai perubahan. sudahkah seorang siap sabar kala tertindas dan siap bersyukur kala berhasil?

pada lingkup kelompok, kita akan bicara bagaimana sistem dalam sebuah kelompok mampua membuat anggotanya saling percaya, redam ego, dan mampu bergerak dengan solid.

yah tampaknya saya harus belajar agar semakin mampu mengendalikan diri.

#refleksibodohmahasiswaesdua

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 8, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

  • Selamat malam semuanya :-) 3 hours ago
  • Kalau gak punya wakil tdk melanggar konstitusi. Saya dukung gubernur ahok kerja tanpa wakil. Akan lebih efektif dan jelas komando nya :-) 16 hours ago
  • Insya Allah besok pagi akan berbagi bersama 6000 mahasiswa baru UNMUL . Terima kasih untuk kesempatannya :-) http://t.co/jdx5wZLnpT 1 day ago
  • Alhamdulillah tiba di bumi samarinda :-) besok pagi akan berbagi dgn kawan kawan UNMUL 1 day ago
  • Selamat malam semua :-) 1 day ago

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,054,776 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,275 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,275 other followers

%d bloggers like this: